Senin, 30 Juni 2014

Lucu Saja

Lucu ketika aku mendengarnya
Lucu ketika aku tahu

Ada 2 orang, ya dua anak manusia
Yang saling menyimpan kasih dalam hatinya yang terdalam
Yang saling memandang,dari jauh 
Tanpa kata 

Hanya bisa saling mengagumi tanpa bisa merayakannya
Meletakkannya dalam doa kepada Sang Pelabuh Cinta
Mengukirnya dalam detil larik
atau harmoni angan

Tapi hanya dari jauh
Tapi hanya dia dan dirinya sendiri
Dan disana pun demikian

Ketika dua orang yang saling suka, 
saling diam, 
saling jauh
lalu saling meninggalkan.

itu apa?

Rabu, 28 Mei 2014

Tips Saat Presentasi

Presentasi? Mungkin dari SMA atau SMP kita telah dibiasakan dengan hal ini. Sekaranng kegiatan belajar mengajar sering difokuskan kepada siswa dan mahasiswa sehingga kita ditugaskan untuk menjelaskan materi-materi yang ada. Tapi percaya atau tidak, kita sering merasa panik untuk melaksanakan presentasi di kelas ataupun  meskipun telah sering dilakukan. Berikut ini adalah tips dan trik yang mungkin bisa kalian lakukan untuk presentasi dengan maksimal.

1. Jangan terlihat panik
Jangan sampai keringat dingin sampai bolak-balik ngelap keringatnya, gemetaran, dan berekspresi seperti orang bingung. Melihat diawal seperti itu, orang baik akan menertawakan anda dan yang licik akan menyerang anda dengan pertanyaan pertanyaan yang "terlihat sulit". Kepanikan anda akan menyebabkan orang tidak yakin dengan kemampuan anda dan materi yang akan anda uraikan. Berjalanlah ke depan dengan tegap, tenangkan diri anda dan katakan apa yang harus anda katakan. Bahkan jika kita terlihat meyakinkan, kesalahan-kesalahan mungkin dapat tertutupi.

2. Senyum
Tersenyumlah, secukupnya dan sewajarnya. Senyum adalah senjata ampuh untuk meyakinkan audiens bahwa anda akan mempresentasikan dengan baik dan meyakinkan bahwa anda mampu untuk menjelaskannya dengan tepat.

3. Pahami materi 
Salah satu hal yang membuat panik dan gagal senyum adalah  mungkin sebenarnya anda belum menguasai apa yang anda bahas. Kuasailah bahan dan materi anda, maka anda akan lebih percaya diri saat tampil.

4. Percaya Diri
Terserah mau teman sekelompokmu se-expert apa, yakinkan dirimu kau juga bisa seperti mereka dan kau akan presentasi dengan baik. Kita semua manusia dibekali hal-hal unik dan istimewa yang membuat gaya presentasi kita menjadi khas satu sama lain. Jangan pernah minder!

5. Kongkalikong dengan tim yang menyangkal
Kalau sistemnya adalah ada tim yang membahas dan ada tim yang bertanya, boleh lah negosiasi dengan mereka mengenai apa yang ditanyakan. Kalian menyiapkan pertanyaan sedemikian rupa dan berikan pada tim penyangkal. Jangan lupa siapkan jawabannnya juga.

6. Berdoa
Yah, sekeras-kerasnya kita berusaha, pada akhirnya kehendak Tuhan yang jadi. Percayakan padaNya apa yang harus kau kerjakan.. Do the best and let God do the rest.



Yah, menurutku itu sih yang bisa kalian lakukan. Selamat presentasi!

less than 10 metres

Hari ini untuk pertama kalinya bagi saya untuk mengikuti PMKJ , Persekutuan Mahasiswa Kristen Jakarta *tit*. Terus terang saya bukan tipikal yanng cukup suka ikut persekutuan mahasiswa,  saya lebih punya chemistry untuk gereja dan organisasi sekuler ketimbang kampus, tapi pengenalan akan Tuhan memang harus kita luaskan dan hal ini adalah salah satunya.
It's good to find out that Mangapul Sagala become the preacher. He is one of my favorite. Ia telah menulis banyak buku yang berkaitan dengan anak muda dan cukup berpengalaman dalam hal kaitannya menjadi anak muda yang tetap Kristen sejati. Pembahasan kali ini cukup membukakan wawasanku, mengenai Roh Kudus. Ya, jarang gereja mengangkat hal ini. Padahal Roh Kudus adalah Roh Penghibur yang akan menyertai kita setelah Tuhan Yesus naik ke surga. Mungkin kita sering lupa berdoa agar Bapa mengurapi kita dengan Roh-Nya dan jangan sampai Roh Allah meninggalkan kita seperti apa yang terjadi pada Saul.
Sebagai anak Tuhan, pernah nggak sih bertannya-tanya, apakah kita malas membaca Alkitab, langsung mengantuk kalau berdoa dan sebagainya? Jika Roh Allah ada dalam hidup kita, percayalah kalau kita akan hidup dalam roh.. Sebagaimana kita tahu pohon dari buahnya, makan Roh yang tinggal dalam kita juga akan terlihat melalui hidup kita sehari-hari.

Setelah mendengar materi yang cukup menyenangkan untuk digali ini, kami pun pulang. Ibadah persekutuan ini dilaksanakan di salah satu unoversitas berlini agama yang cukup terkenal di jakarta. Tapi agak pahit mengetahui bahwa setelah kami keluar
"dimohon untuk segera pulang karena situasi dan kondisi di kampus sedang tidak aman"

Usut punya usut, ternyata akan terjadi tawuran. Ada sedikit perasaan tergelitik bagiku secara pribadi. Kami, ya para generasi muda Kristen, duduk, berbicara tentang Roh Kudus, berbicara tentang lawatan Tuhan bagi negeri ini. Eh ternyata, teman seiman, sesama civitas academica bahkan tak paham untuk berdamai dengan sesama almamater, kurang dari sepuluh meter dari kami. Aku menjadi bertanya-tanya dalam hati, apa ini sekolah yanng berdasarkan Ketuhanan itu? Jadi yang kami dengar tadi, bahkan tak bisa dikerjakan kurang dari 10 meter dari tempat ayat-ayat dibacakan. Roh Kudus, bekerjalah dalam kehidupan kami, supaya kami tidak hanya menjadi jemaat yang doyan duduk saat ibadah, melainkan turut megabdikannya, dari yang kecil, dari yang dekat.. 

Selasa, 27 Mei 2014

nyaman

Pada mulanya kita menyebut hal tersebut bersosialisasi. kita saling bertegur sapa, sedikit banyaknya sebagai teman seiman, teman satu almamater dan teman yang sering bertemu di sekolah.
Sepotong sosok awal yang kuingat darimu, kau bukan orang yang mudah ramah pada orang baru, berbicara dengan orang-orang yg kau kenal saja, kalau aku tak salah. Awal aku menegurmu, kau acuh tak acuh, yang sebenarnya cukup menyakitkan hati. Aku tidak ada perasaan khusus, tapi dari dulu aku benci pada orang sengak.

Kau masih tetap sengak. Senyummu tak memiliki arti jelas. Kau cenderung menutup diri, sulit melihat sisimu. Tapi pelan-pelan, bisa berbicara denganmu. Setidaknya ada tema yang kita bicarakan, ada tawa yang mengudara dan ada senyum yang terpancar.

Aku mulai nyaman, sangat nyaman bersamamu
Mungkin kita bisa berbaur dengan banyak hal, tapi untuk menjadi nyaman?
Kurasa itu proses seumur hidup

Aku nyaman dengan canda garingmu, semangat bolamu, kesombonganmu
aku nyaman
apakah kau senyaman aku ? aku pun tak tahu, entahlah.. apa kenyamanan ini hanya milikku pribadi
tapi terima kasih, untuk tempat nyaman bersamamu. aku tahu aku tak mudah untuk mendapatkannya

Senin, 24 Maret 2014

sebuah cerita : My life event part V

V
Mom : Everything Possible

Tak cukup waktu dan kata yang menggambarkan ibuku. Dan aku termasuk diantara sekian banyak manusia  yang paling tak bermutu untuk menggambarkan betapa istimewanya sosok seorang ibu.
Ibu adalah dokter bertangan dingin, akuntan terhebat, manajer yang tak perlu belajar ilmu manajemen, dalam mendampingi ayah mengendalikan bahtera keluarga ini. Dengan penuh kebijaksanaan beliau memulai dan mengakhiri hari. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, ibuku adalah ibu dengan gengsi dikalikan nol untuk melayani keluarga.
Dear.... bekalmu, Nak. Jangan laju naik motor, lihat kiri kanan kalau menyeberang,” lengking mama dari luar saat aku menarik gas motor menuju sekolah. Lalu dengan sangat tinggi hati aku tancap gas dan segera diangkut ke puskesmas terdekat karena sudah menabrak tiang listrik.
Krisis global tak pernah menyurutkan langkahnya untuk memberikan gizi normal pada kami. Ketika ibu-ibu malah mengurangkan jatah belanja sayur bagi keluarganya, maka mama akan berpikir untuk menanami pekarangan dengan bayam dan menaburi parit dengan batang-batang kangkung, tanpa pengurangan makanan bergizi. Hanya saja pemotongan luar biasa terjadi pada uang jajan dan tagihan rumah tangga.
“Uang jajan kalian dipotong ya, Nak. Kalian bawa bekal saja. Mama sudah beli tupperware untuk kalian berlima, tadi Bu RT diskon besar-besaran lho,” ujar Mama ceria. “Uang rokok Bapak ditiadakan. Merokok itu tak baik, Pak. Sudah banyak ilmuwan yang bilang seperti itu,” Mama tersenyum pada Bapak yang kecut. “Kalau nonton TV jangan dua TV hidup ya, salah satu saja. Jadi tagihan listrik bisa berkurang. Air juga dibatasi. Kan lagi musim hujan, kita masak air panas pakai kayu bakar. Dengan air panas, kita bisa mandi hanya dengan satu ember satu orang. Selain menghemat tagihan ledeng, daki juga cepat keluar,” ucap Mama dengan panjang lebar.
“Ma, aku kan cowok. Masak bawa bekal,” Bang Sony protes.
“Memang kalau cowok tak boleh bawa bekal? Tidak  ada peraturan khusus kok,” jawab Mama cepat.  Oh, man! The dictator mom. Tak ada yang dapat menentangnya saat ia merumuskan suatu kebijakan, terutama kebijakan ekonomi di masa resesi seperti saat ini.
Mama adalah ibu yang sangat tak bisa diam. Gatal tangannya jika melihat piring kotor, sakit matanya kalau lihat baju kusut, pusing kepalanya kalau melihat sedikit debu dan bisul pantatnya jika tidak duduk di depan mesin jahit. Reaksi tubuh yang aneh, tapi itulah faktanya. Mama bukan main ulet, jika seribu saja ibu di Indonesia seperti mama, kujamin penyakit obesitas di kalangan anak-anak akan meningkat.
“Ibu-ibu modern sekarang,” mama memulai “kurang terampil dalam menghadapi keluarganya. Kalian anak-anak mama jangan begitu ya nanti kalau sudah berumah tangga.”
“Ah, kayak ibu-ibu zaman dahulu aja yang bagus,” jawab kak Rena.
“Memang. Kalau tidak, mana mungkin nenekmu bisa panjang umur padahal melahirkan sembilan anak dengan normal? Sekarang? Melahirkan satu saja pakai operasi sesar!”
“Zaman dulu kan belum ada operasi sesar, Ma,” sahutku.  Iya juga, aku mulai membayangkan bagaimana Mama berjuang lima ronde mengeluarkan kami anak-anaknya dari gua gelap yang berjudul rahim. Sungguh perjuangan itu.  Mama telah membuka tema yang bagus. Bisa kusimpulkan yang mau diangkat menjadi tema seminar kami hari ini adalah Fenomena Keterampilan pada Ibu-Ibu Rentang Masa- suatu studi sosial yang dilakukan ibu saya. Maka aku dan Kak Rena duduk rapi menghadap padanya meminta wejangan pada guru kehidupan yang satu ini.
“Kalian tahu kenapa semakin lama semakin banyak kenakalan-kenakalan dan ketidak wajaran dalam kehidupan?”
Kami berdua menggeleng.
“Karena anak-anak sekarang tidak dididik di tangan ibu yang bijaksana.”
“Siapa tahu juga kan Ma kalau si anaknya nggak bergaul dengan lingkungan yang benar?”
“Anak yang punya keluarga dan ibu yang mendidik dengan bijak dan benar pasti punya sakit batin kalau melakukan yang tidak benar, Nak. Liat abangmu, biar degil-degil, nggak tega kan dia membiarkan kalian nggak kerja PR? Kalian dimarahin kan kalau nggak belajar tiap malam?”
“Iya sih.”
“Ibu-Ibu mulai berkembang, sebenarnya itu baik sekali loh. Malu juga kan kalau punya Mama cuma tamat SMA? Tapi, seiring dengan bergesernya posisi wanita dari dapur ke kantor, banyak yang lupa otoritasnya yang utama adalah menjadi pengarah rumah tangga, bukan fokus ke kantor saja.”
“Entar yang jadi petinggi kantor nggak ada yang cewek dong, Ma?”
“Resiko, Nak. Kita tidak bisa sempurna dalam segala. Tapi kita bisa memegang segala hal. Itu gunanya spesialisasi. Sekarang tinggal memilih, Nak. Ia mau menjadi yang utama di kantor, atau yang utama di rumah. Sebaiknya seorang ibu memilih untuk menjadi yang utama di rumah, dan memang itu sesungguhnya tugas yang utama seorang ibu. Mama juga nggak mau kok hanya di rumah, mama dari kecil pengen kerja kantoran. Tapi naluri seorang ibu nggak bisa diingkari, Nak. Tugasku adalah memberi kebutuhan jasmani dan rohani kalian. Lagipula Bapak kalian sudah diciptakan untuk mencari benda yang namanya uang lebih banyak dan lebih lama dari pada mama.”
“Jadi, mungkin ibu sekarang mengingkari panggilan keibuannya karena uang?”
“Sedikit banyaknya, ya. Beli susu buat kalian pake duit, Nak. Tapi, ya itu lagi, bagaimana si Ibu itu menjadi bijaksana mengatur waktu dan uangnya. Apakah ia akan membeli makanan jadi yang praktis, jadi ia tinggal mencari uang sebanyaknya untuk cukup membeli hal instan atau belanja ke pasar, masak sendiri yang jelas lebih hemat, sehingga sisanya ditabung membeli susu, tapi ia tidak bisa terus-terusan di kantor mengintip kemungkinan proyek berhonor. Semua itu pertimbangan, Nak. Dalam bahasa ekonominya, trade off. Paham?”
“Jadi ibu itu tidak boleh bekerja?”
“Siapa bilang tidak boleh, melainkan menentukan prioritas.”
“Jadi bagaimana menjadi ibu yang baik, Ma?” tanyaku
Mama tersenyum mendengar pertanyaanku.
“Tidak ada ibu yang sempurna di dunia, anakku. Tapi panggilan jiwa akan mengarahkan kalian menuju jalan menjadi ibu yang teristimewa di hati anak-anak kalian. Kalian akan menemukan jawabannya ketika benar-benar menjadi ibu nanti. Mama juga bukan yang luar biasa baik, kan? Mama cerewet kan? Tapi mauku sebagai mama kalian, supaya kalian jadi anak-anak istimewa di mata Tuhan dan sesama dari tanganku yang tidak istimewa ini.”

Kami bertiga saling bertatapan penuh senyum dan tanpa sadar aku dan Kak rena memeluk Mama. Ma, Mama mungkin bukan yang istimewa di kantormu, dan pula bukan pegawai dengan prestasi yang begitu luar biasa. Tapi Mama sudah menjadi yang teristimewa di hati kami dan sukses dalam karirmu menjadi ibu kami.

Minggu, 23 Maret 2014

Sebuah cerita : Life Event part IV

IV
Bukan pengharapan besar, tapi penuh

Kapasitas yang kumiliki untuk berkhayal tinggi mungkin salah satu cara untuk mengisi angan-anganku yang banyak hilang. Kalian akan berpikir aku naif tentu, tapi percayalah, tanpa mimpi tak mungkin seorang Alfa Edison tabah mencari formula lampu pijar, tak mungkin Soichiro Honda punya brand otomotif terkenal. Bermimpi itu penting. Hiduplah bersamanya, jangan hidup di dalamnya.
Tapi antitesis dari semua definisi idealku adalah seorang lelaki buncit yang terlalu sukses untuk pandangan hidupnya yang pesimis bukan main. Bang Sonny, satu-satunya manusia dari keluarga kami yang menjadi penerus marga Silitonga.
“Orang-orang seperti kalian yang cepat masuk rumah sakit jiwa. Bisa nggak berpikir lebih real?” ucapnya saat aku mengetik cerita ini untuk kalian.
“Bisa diam nggak? Udah nggak mendukung, ngomel lagi,” sahutku kesal. Ia geleng-geleng kepala.
“Dengarkan adikku yang terlalu termakan omongan motivator.  Siapa yang mau baca cerita penuh khayalanmu ini? Bermimpi hanya membuat orang diam terpaku, pasif. Lihat aku, aku jalani saja semua seperti air mengalir. Buktinya sekarang aku bisa lulus jadi PNS,” jawabnya sambil mengacak-acak rambutku.
Bang Sonny adalah manusia yang tak tertebak. Saat SD mama cerita ia amat pesimis dengan nilai UAN matematikanya, tapi saat lulus Bang Sonny meraih nilai kedua tertinggi di sekolahnya. Bayangkan, satu sekolah.  Ia amat pesimis akan masa depan karena menamatkan pendidikan SMP dan SMA-nya dengan nilai pas-pasan. Ia bercita-cita menjadi polisi, dan aku tahu betul bagaimana perjuangannya dalam berolahraga. Namun sungguh malang. Mewarisi gen Bapak yang pendek dan gempal, Pak Polisi di bagian pemeriksaan kesehatan sampai bosan melihatnya datang untuk mengukur tinggi dan ujian polisi. Berenang setiap hari, restok sampai restoknya patah, minum susu, minum obat peninggi badan, main basket. Tetap saja tinggi badan kurang dari standar. Akhirnya dia patah hati. Dengan gontai ia mengikuti seleksi mahasiswa. Ia tak berharap banyak saat SNMPTN tapi buktinya dia juga bisa kuliah di Universitas Tanjungpura. Bukan karena ia tak bisa sekolah di Pulau Jawa. Sekolah itu tidak harus di Jawa, begitu katanya. Habis duit dengan gelar sama Sarjana, ijazah sama kertas, tulisan sama huruf romawi, keluaran dikti, kata-katanya pun sama persis.  Saat mengikuti berbagai testing CPNS, ketika orang-orang heboh Try Out CPNS dan ikut bimbingan belajar,  ia mengikuti semua tes instansi yang buka lowongan, menganggap semua test itu sebagai Try Out yang tak usah dipikirkan hasilnya, dan ia lolos 3 dari 5 instansi yang diikuti tesnya. Bagi orang seperti kami, bisa lulus PNS dengan cara yang bersih merupakan hal yang luar biasa dan benar-benar keajaiban Tuhan. Luar biasa, aku tak habis pikir mengapa itu bisa terjadi. Belajar juga tidak, registrasi tes CPNS diikutinya itu karena tiba-tiba dia teringat saat main poker online. Kalau pesimis saja bisa sebahagia itu, bagaimana kalau dia selalu menjadi optimis dan ceria? Jangan-jangan seharusnya dia menjadi manajer perusahaan besar.
“Keberuntunganmu memang besar, Bang. Bukan pesimismu itu yang bikin kau menang,” jawabku.
“Karena aku terbiasa bertanding sebagai amatiran yang baru kenal lapangan, dek,” jawabnya. “Itu yang membuatku tak terbeban akan hasilnya. Sementara kalian, para pemimpi ulung akan melakukan sesuatu dengan angkuh, mendahului Tuhan. Seperti tes CPNS misalnya, try out sana-sini, tanya tips sana-sini, les sana-sini. Heboh! Kalian hanya akan terkejut  ketika keadaan sebenarnya tak seperti itu,” jawabnya. Aku berhenti mengetik memandangnya serius. Tak sepenuhnya salah apa yang diucapkannya.
“Tunggu, tunggu. Jadi maksudmu, lebih baik tak berharap daripada kecewa akan hasilnya?” tanyaku.
“Jangan bodoh. Orang pesimis bukan berarti tak berpengharapan. Hanya saja pengharapannya tak sebesar upil di hidungmu tahu.”
“Itu dilakukan oleh orang yang cepat kalah!” potongku protes.
“Yahhh, aku tak bisa menghentikan niatmu itu untuk bermimpi. Tapi maksudku, jangan tenggelam dalam mimpi itu. Belajarlah untuk beraplikasi dalam dunia nyata. Orang modern terlalu terbiasa hidup dalam angan-angan, makanya mereka terbelit hutang untuk membayar kredit,” ucapnya.
“Aku nggak begitu juga kale.”
“Makan tuh omongan motivator. Mereka menyuruh kalian bermimpi tinggi-tinggi. Tak ada yang mustahil jika kita memimpikannya-ucapan apa itu? Yang benar, tak ada yang mustahil jika Tuhan berkehendak! Dasar egosentris. Berpikir bahwa pikirannya saja yang jadi. Berpikir dan berpusat hanya pada diri sendiri. Pikirkan, ayo pikirkan. Kalian hanya memikirkan diri sendiri kan? Itulah dunia zaman sekarang. Jangan kau telan bulat-bulat omongan mereka itu.”
Aku yakin dia akan dikejar-kejar motivator karena doktrinnya nyaris tidak salah. Tumben juga dia ingat Tuhan.
Jangan hidup dalam mimpi. Tapi hiduplah dengan mimpi. Hidup dalam mimpi menyebabkan orang Indonesia berpikir untuk mendapatkan hujan uang untuk banyak uang, tapi orang yang hidup dengan mimpi akan tergiat bekerja untuk mendapatkan uang banyak,” Bang Sonny berkata-kata.
“Aku masih tak mengerti!”
“Aku tak suka bilangnya mimpi. Aku lebih suka bilangnya pengharapan. Pengharapan  yang sebesar dan sepadat biji sesawi lebih bisa memindahkan gunung daripada mimpi yang gedenya seperti  balon ulang tahun besar , tapi terkena cobaan sekecil jarum pun langsung hilang, meledak, duar! nol. Bukan perkara besarnya harapan, tapi penuhnya pengharapanmu.”

Astaga, mantap betul.  Benar-benar logis, ia menggabungkan perkataan Tuhan Yesus dan aplikasinya terhadap hukum gas ideal yang memenuhi ruang dari Dalton, Toricelli, dan kawan-kawannya. Ya, biji sesawi tak bergeming jika hanya ditusuk jarum, tapi sebuah pengharapan yang besar tanpa “kepenuhan” akan menjadi sia-sia.  Jika orang yang sepesimis dan sepasrah dia dicukupkan Tuhan untuk menggapai harapan dan cita-citanya, apalagi kita yang mengimani mimpi dan pengharapan kita? Kita percaya bukan bahwa Tuhan itu Mahabaik dan Mahaadil? Yah, aku akan berharap penuh. Fill it. Bukan hanya tampilannya yang besar. 

Sebuah cerita : My life event part III

III
Buncit-Buncit Kemelaratan

Perkenalkan. Kami keluarga Silitonga. Dengan personil tujuh orang : lima anak dan sepasang orangtua, kami adalah sekelompok manusia yang masih tertib menjalankan peraturan kuno. Tidak ada celana skinny jeans di rumah kami, semua gaun harus di bawah lutut, semua pakaian kami gombrang bagai baju tidur sehingga jangan harap kami menggunakan pakaian yang ketat. Pulang maksimal pukul 10 malam, untuk yang laki-laki dapat pulang jam 11 malam.
Tak berlaku gengsi dalam hal makanan. Ini salah satu yang kusyukuri bahwa kami bertujuh adalah omnivora kelas kakap yang tahan berlauk  ikan teri selama 10 hari. Kami tak punya daftar alergi pada makanan apapun, kecuali pada makanan basi dan tidak bersih.
Walaupun begitu, aku menyukai keluarga ini. Aku bersyukur ditempatkan dalam intitusi sosial tertua yang benar-benar menghidupkan demokrasi dengan ayahku pemimpinnya dan ibuku sebagai dewan penasihat agung.  Keluarga ini yang membuatku sangat tak biasa dengan cerita temanku tentang ibunya yang pulang kantor jam 6 sore, tak sempat membuatkan sarapan dan beli makanan di luar.
“Pagi ini ibu Rara nggak sempat buatin sarapan, soalnya ibu ngetik laporan kantor sampai jam 3 subuh, ehh.., kesiangan deh!”
 Rara, perempuan kecil yang berat badannya selalu dibawah ideal ini mengeluh sambil menelan chiki. Kalian tahu chiki? Makanan ringan penuh angin yang kantungnya lebih besar daripada isinya. Lihat perut si Rara, cekung sekali. Padahal makannya lumayan banyak. Sementara aku, sudah cembung berapa inci ke depan. Padahal keluarga si Rara jauh lebih berada di banding keluargaku. Maklum, keluarganya tipikal keluarga modern. Beli makanan diluar. Kalau aku beli makanan di luar, kupastikan keluargaku bangkrut karena kami jika makan mie tiauw harus menambah satu porsi lagi.
Mungkin karena ayahku bukan manusia gila kerja - ia lebih baik pulang pukul 12 siang ke rumah untuk sekadar makan siang dan membuat puding agar adikku tidak mengeluh buang air seperti kotoran kambing. Dan ibuku, seorang wanita karir pula-ia selalu bangun pukul 4 pagi, membuatkan sarapan, memasak makanan kami untuk siang dan malam. Ia lebih baik mengupas bawang di kantor daripada menenteng laptop kalau hanay untuk main game karena di kantornya. Aku yakin di seantero Indonesia ini hanya Mama yang tega bawa bawang buat dikupas di kantor. Dan dari Mama juga kami mewarisi sikap cuek luar biasa. Mereka berdua bukan tipe pegawai negeri yang suka berebut jabatan, prinsip yang tak akan membuatmu kaya. Kalau Bapak Ibu kami korupsi, aku yakin soal ekonomi ya hanya selisih sebelas dua belas dengan keluarga si Rara. Tapi tidak. Tidak. Kami hanya keluarga pas-pasan, yang pas beli TV, laptop, motor, sofa ruang tamu, dengan mencicil lalu pontang-panting melunasinya. Pak Presiden, jika Bapak Ibu kami rada terlambat ke kantor, sesungguhnya mereka sedang mempersiapkan generasi bangsa yang seimbang atara harta dan keimanan.
“Kalau pegawai biasa seperti kami, Nak, mau korupsi dari mana. Kalau yang pejabat itu, udah lain korupsinya, Nak,” ucap Bapak.
Walaupun kami tak kaya, kami bertujuh memiliki berat badan melebihi normal, kecuali ibuku. Maksudku, kami benar-benar tak sekaya kepala kantor tapi penampilan kami jauh lebih sejahtera dibanding teman-teman kami yang jika ingin jajan es krim di baskin robbins tak perlu berpikir seratus kali.
Dengan pendapatan pegawai negeri yang pas-pasan, mustahil untuk membuang-buang uang. Mari kalkulasikan. Jika kami setiap makan harus membeli makanan jadi, gaji Bapak Ibu kami tentu tak cukup. Hitunglah satu porsi makanan paling jelek sepuluh ribu per hari. Tiga kali makan berarti harus mengeluarkan tiga puluh ribu. Tiga puluh ribu di kali tujuh karena kami ada tujuh orang berarti  210.000. 210.000 dikalikan 30 hari dalam satu bulan adalah 6.300.000. gaji bapak Ibuku kalau digabungkan hanya lima juta. Bisa-bisa kami tak pakai sabun untuk mandi jika mengikuti gaya hidup sekarang yang konsumtif. Karenanya, sekalipun orang-orang berebut untuk menjadi pegawai negeri sampai menyogok  hingga puluhan juta, aku sudah melihat fakta dengan mata kepalaku sendiri, sebenarnya Pegawai Negeri adalah kaum intelek melarat yang tersembunyi oleh seragam dan kartu tanda pegawai. Resiko lain sebagai akibat menjadi pegawai negeri adalah anak-anaknya kepayahan setengah mati mengajukan beasiswa bidik misi karena alasan orang tuanya Pe-eN-eS dan akan dianggap berkecukupan, padahal kita tahu sama tahu bagaimana pendapatan Pe-eN-eS dan susahnya hidup jika bulat-bulat makan gaji.
Karena aku adalah keturunan Pegawai Negeri. Buyutku adalah tentara PETA yang dilatih Jepang, kakekku adalah tentara BKR yang hanya dapat medali usang karena turut mempertaruhkan nyawa melawan Belanda saat agresi militer, dimana nyawa hanya seharga jagung rebus karena siapa yang tahu kalau kau besok di bedil Belanda. Untung saja kedua orangtuaku tidak memikul senjata. Bapak Ibuku juga pengabdi pemerintah yang kerjanya membuatkan KTP dan akta lahir orang. Walau begitu, aku berucap seribu terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena setidaknya kami cukup makan minum, bersekolah di tempat yang gedungnya tidak roboh ditiup angin dan bahkan punya perut yang lebih buncit dibanding teman-temanku yang maaf kata, mobilnya lima.
“Nanti jika kalian sudah sukses, Bapak akan lebih bangga kalau naik mobil yang dibelikan oleh kalian,” kata Bapak menyemangati hati. Saat itu baru saja turun hujan, Bapak mengantarku les menggunakan motor dan sebuah mobil dengan kecepatan tinggi membuat semburan air kotor jalanan dan mengotori baju kami. Mobil hitam brengsek, pikirku. Ya, saat itu aku belum sungguh-sungguh beriman. Jadi jangan salahkan mengapa aku masih hafal makian populer saat itu.
“Apakah kalau kita menjadi orang kaya kita harus berlagak, Pak?’
 “Justru itu, karena kita tahu rasanya hidup orang pas-pasan, kita harus berbagi,” jawab Bapak. “Banyak orang saat ini yang mendapat kesuksesan tanpa proses yang baik, Nak,” jawab Bapak. “Kau tahu, teman SMP-mu yang bernama Krisantus itu sekarang sedang di rehabilitasi karena memakai narkoba, Nak?” sambungnya.
“Eh? Si Kris? Pakai narkoba?”
“Iya, Nak. Kemarin baru aja Bapak ketemu dengan Bapaknya.”
“Duitnya banyak, Pak. Bingung mau dibelanjain kemana lagi. Bapak tahu darimana?” tanyaku. Memoriku berputar pada seorang bujang lagak saat aku SMP. Krisantus, yang berani menonjok guru dan hebatnya tak dikeluarkan. The power of money.
“Bapak ketemu Bapaknya kemarin. Sekarang dia di rehabilitasi di Singapura. Sudah agak pulih katanya. Tempat rehabilitasinya itu dibangun missionari, Dek. Jadi sekalian dapat ilmu agama,” jawab Bapak. “Si Krisantus itu tahu bagaimana memiliki banyak uang, tapi ia tak tahu bagaimana mendapatkannya. Jadi dia nggak menghargai uang untuk digunakan dengan bijaksana. Sayang ya, Nak. Maaf ya, Nak.  Kita nggak sekaya si Krisantus, jadi hidup kalian agak susah, hahahaha.” 
Iya Pak, jawabku dalam hati. Aku memeluk perut buncitnya dengan erat.  Semoga Tuhan mendengar doaMu ya, Pak. Doa dan kerja kerasmu untuk kami, anak-anakMu. Bapakku yang kusayangi, meski ia tak sesempurna dalam kisah-kisah dongeng, ia adalah Bapakku, Bapa yang bisa mencerminkan bagaimana Bapaku di Surga. :)